Mayoritas penghuni neraka adalah wanita

Muhammad mengajarkan bahwa
mayoritas penghuni Neraka adalah
wanita!
Nabi berkata, “Saya melihat ke dalam
api neraka dan ternyata mayoritas

penghuninya adalah wanita” (Hadis I/
28, 301; Hadis II/161).
Alasan mengapa mayoritas penghuni
Neraka adalah wanita jelas-jelas tertulis
dalam Hadis II/541,
Wahai wanita! Aku tidak pernah melihat
manusia yang begitu kurang dalam
kecerdasan dan dalam agama selain
dari jenismu.
Muhammad meyakini bahwa para
wanita “kurang cerdas” dan oleh
karenanya menurut Hukum Islam
mereka tidak layak diberi hak-hak yang
sama dengan pria.
Contohnya, Muhammad mengatur
dalam undang-undang bahwa kesaksian
wanita di pengadilan nilainya hanya
setengah dari kesaksian seorang pria.
Jadi diperlukan kesaksian dari dua orang
wanita untuk mengimbangi kesaksian
seorang pria. Bayangkan bagaimana
dampak peraturan tersebut terhadap
wanita-wanita yang diperkosa.
Nabi bersabda, “Bukankah kesaksian
seorang wanita sama dengan setengah
dari kesaksian seorang pria?” Para
wanita itu berkata “Ya”. Nabi berkata
lagi, “Hal itu disebabkan karena
kemampuan berpikir wanita sangat
kurang” (Hadis III/826).
Muhammad bahkan membuat peraturan
bahwa hak warisan yang diterima anak
wanita hanya sebesar setengah dari
yang diterima anak laki-laki (Hadis
IV/10). Jadi para wanita dihukum secara
keuangan semata-mata karena mereka
wanita.
Dan barangkali gambaran terendah dari
martabat wanita Islam tercermin dalam
pernyataan bahwa dalam Firdaus
tersedia wanita-wanita cantik yang
tugas utamanya adalah untuk
memuaskan nafsu seksual pria, dan
mereka ditambatkan pada sudut-sudut
suatu paviliun.
Pernyataan Allah, wanita-wanita cantik
ditambatkan di paviliun-paviliun. Rasul
Allah berkata, “Si Surga ada sebuah
paviliun yang terbentuk dari sebuah
lubang terowongan mutiara yang
lebarnya 60 mil, pada masing-masing
sudut terdapat para isteri yang terpisah
dan tidak dapat saling melihat dengan
sudut lainnya, dan orang-orang beriman
akan mengunjungi para wanita tersebut
untuk “menikmati” mereka. (Hadis
VI/406).
[Bahwa di mata Allah, wanita Islam
tampak merupakan obyek-seks dari
pria, dijelaskan dalam HSB 1439, dimana
Muhammad berkata: “Apabila seorang
laki-laki mengajak isterinya tidur,
sedang perempuan tidak mau, lalu laki-
laki tadi semalaman itu dalam keadaan
marah, malaikat melaknati perempuan
itu sampai pagi”. Tidakkah pelaknatan
malaikat semacam ini sungguh
bermasalah?
1) Hukuman sepihak tanpa
mempersoalkan keberatan-keberatan di
pihak sang isteri?
Capai, sakit, labil mental atau fisik, salah
waktu, salah tempat, salah kondisi,
salah cara mengajak hubungan seks
dari pihak suami, -semuanya adalah sah
bagi sang isteri untuk menolak seks
sepihak. Bila tidak, tentu seks suami-
isteri itu akan berubah menjadi
“pemerkosaan suami” atau sang isteri
hanyalah budak-seks belaka! Adilkah
Allah?
2) Apakah malaikat perlu bekerja
semalam suntuk demi melaknati sang
isteri? Apakah penghakiman Allah
dibatasi waktunya sepanjang beberapa
jam itu saja (dari malam tersebut
hingga paginya), dimana sang isteri
segera akan terlunas dari laknat
keesokan harinya? Dan benarkah sang
isteri akan betul-betul merasakan ujud
laknatNya semalaman, padahal ia
tertidur? Telah maha benarkah Allah
membela semua kemarahan/kebencian
karena nafsu berahi di pihak laki-laki,
tanpa menawarkan pendamaian
keluarga, kecuali melaknati pihak
perempuan?]

Pos ini dipublikasikan di IslamicQuraishCenter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s