Istri sholeha: bertingkah seperti pelacur ketika diranjang dan rela suami berpoligami

JAWAPOS –
istri yang tergabung dalam Klub Istri Taat
Suami 100 Persen saat foto bersama di sela-
sela launching di salah satu restoran di Jakarta
Selatan, Sabtu malam (11/6)
Komunitas ini lebih dulu ada di Malaysia:
Obedient Wives Club atau Klub Istri Taat
Suami (KTS). Sabtu (11/6) malam klub tersebut
di-launching secara resmi di salah satu restoran
di Jakarta Selatan. Benarkah jumlah
anggotanya sudah mencapai ratusan orang?
Apa saja yang diajarkan kepada para
anggotanya?
AGUNG P.-DHIMAS G., Jakarta
Sabtu malam puluhan anggota KTS memadati
Restoran Sindang Reret, kawasan Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan. Para istri itu hadir
dengan pakaian dan make-up maksimal.
Kebanyakan mengenakan pakaian muslimah
yang berwarna pink. Ada pula yang tampil
dengan bedak kuning langsat dan maskara
yang membuat lentik alis dan bulu mata.
Tempat duduk perempuan dan lelaki
dipisahkan. Mereka tak boleh duduk
berdampingan, kecuali suami istri. Itulah
suasana di acara launching KTS. Setiap meja
rata-rata dikelilingi sepuluh kursi. Ada
panggung kecil. Hiburan yang ditampilkan
adalah lagu-lagu islami seperti musik nasyid.
Salah seorang anggota KTS, Fatimah,
menuturkan bergabung dengan KTS pada 1995.
Sejatinya, dia sudah ikut komunitas Global
Ikhwan (yang memelopori KTS) pada 1994.
Namun, karena baru bersuami pada 1995, dia
masuk klub pada tahun tersebut. Dulu, terang
dia, KTS tidak seperti sekarang, yang sangat
terbuka dengan anggota baru. “KTS adalah
aktivitas di dalam Global Ikhwan. Sekarang
ramai begini karena kami ingin terbuka dan
menerima anggota baru,” tutur dia.
Perempuan hitam manis dari Palembang itu
menambahkan, sebelum menikah, anggota
KTS harus melalui berbagai pelatihan. Mulai
pelatihan pranikah, pelatihan perkawinan, dan
pelatihan pasca perkawinan. Dalam pelatihan
pranikah, kegiatan lebih diutamakan pada
pembentukan mental istri. Yakni, ditanamkan
nilai bahwa ketaatan terhadap suami
dilakukan karena kecintaan kepada Allah.
Nah, pelatihan semakin seru saat Fatimah
hendak menikah. Pelatihannya semakin
konkret dan detail pada hubungan suami istri.
Dia diajari cara memuaskan suami di ranjang
secara total atau 100 persen. “Harus berani
gila-gilaan kepada suami,” terang dia.
Bagaimana hubungan gila-gilaan itu?
Perempuan 37 tahun tersebut mengibaratkan
PSK (pekerja seks komersial) kelas atas ketika
melayani tamu. Para PSK itu berani berbuat
apa saja karena dibayar. Para anggota KTS
juga harus mau diperlakukan apa saja oleh
suami ketika berhubungan seks. “Juga kapan
pun suami “mau”, kita harus melayani. Tidak
boleh menolak,” ucap ibu tujuh anak tersebut.
Selama ini, terang Fatimah, istri cenderung
sungkan. Mereka kerap malu jika suami
menuntut hubungan seks yang aneh-aneh.
Padahal, papar dia, apa pun gaya seks yang
diinginkan suami, istri harus meladeni. Seperti
apa gaya yang aneh-aneh itu? “Hanya yang
sudah berkeluarga yang boleh tahu,” ucap dia
sambil tersenyum.
Melayani suami 100 persen itu juga termasuk
urusan batin. Kalau suami menginginkan
poligami, mau tidak mau istri harus meluluskan
permintaan tersebut. Tapi, tetap pada koridor
yang sudah ditentukan oleh Islam, yakni
mampu bersikap adil. “Kalau tidak mampu, ya
hanya satu istri saja,” ucap Nur Kemala,
anggota lain.
Perempuan molek itu menyatakan bahwa saat
ini suaminya memang belum berpoligami.
Namun, Nur yang bergabung dengan Global
Ikhwan sejak 2003 itu mengatakan sudah siap
kalau dimadu oleh sang suami. “Memang
belum ada tanda-tanda (suami berpoligami).
Tetapi, saya sudah menyiapkan mental untuk
itu,” tegas dia.
Nur juga menyatakan sudah “mengamalkan”
pelayanan kepada suami sepenuhnya itu. Dia
mengakui lebih takut kepada Allah dan tidak
bisa menjadi istri yang taat kepada suami.
Apakah itu bisa menjamin keluarga sehat? Dia
mengangguk pasti. Sebab, sampai saat ini
belum ada permasalahan di keluarganya.
Nur lebih suka total dalam melayani suami
daripada suaminya meleng saat tidak
bersamanya. Dia menuturkan bahwa semua
itu memang berat. Tapi, itulah yang diminta
Allah sebagai Tuhan. Dia juga tidak peduli
kalau cara melayani suami tersebut bagi orang
lain dianggap melecehkan. “Khawatirkan
maraknya prostitusi ketimbang cara kami,”
terangnya.
Terdengar nakal memang ketika para istri
diminta memberikan pelayanan seksual
layaknya PSK kelas atas. Namun, totalitas
pelayanan seksual kepada suami tidak berarti
merendahkan posisi istri. Itu hanya
pengandaian. “Seperti dalam keberanian, kita
seperti singa, cerdik seperti kancil,” ujar Ketua
KTS Indonesia Gina Puspita.
Seperti apa pelayanan penuh totalitas itu? Saat
meresmikan KTS tadi malam, Gina
menjelaskan bahwa hal tersebut harus
dilakukan berdasar selera suami. Bukan istri.
Selama suami puas, tugas istri telah
tertunaikan.
“Seperti saat menikah, wanita tak pernah
mewakili dirinya dalam berucap, tapi walinya.
Artinya, wanita diciptakan Allah perlu akan
kepemimpinan lelaki, baik sabagai ayah
maupun suami. Termasuk soal kamar tidur,”
katanya.
Itulah pesan yang disampaikan KTS. Tentu saja
anjuran tersebut membuat para suami yang
tergabung dalam Global Ikhwan berbunga.
Saat Gina mengatakan pentingnya pelayanan
seks, sang suami kerap terlihat mengangguk.
Sementara para istri, entah risi karena
membahas seks, mereka hanya diam.
Di acara yang didominasi warna pink itu, Gina
mengatakan bahwa tubuh indah yang dimiliki
istri akan menjadi percuma apabila tidak bisa
taat kepada suami. Tidak bisa membuat
suaminya puas dan memilih untuk mencari
kepuasan seksual di luar. “Itulah yang dimaui
Allah. Kalau nggak gitu, nggak usah menikah,”
katanya.
Beberapa suami terlihat menarik senyumnya
saat Gina menuturkan bahwa para suami
sudah berseri-seri kalau istri melayani 80
persen saja. Nah, bagaimana kalau dilayani
seratus persen alias total? Para suami menarik
senyumnya kembali seolah sepakat dengan
ucapan ketua KTS itu.
KTS percaya bahwa seorang istri tidak boleh
sekadar pandai memasak dan menjadi ibu
yang baik bagi anak-anaknya. Bahkan, mereka
percaya bahwa ketidakpatuhan istri atas
suamilah yang mengakibatkan dunia menjadi
gonjang-ganjing. Sebab, para suami tidak
bahagia di rumah karena pikiran dan jiwanya
terganggu.
Menurut Gina, berdirinya KTS semata-mata
untuk mengajak umat Islam mengamalkan
ajaran Islam secara lengkap. Istri atau calon
istri yang bergabung di KTS akan diberi
panduan konseling bagaimana membangun
sebuah rumah tangga dengan cara islami.
“Termasuk pelatihan seksual,” tuturnya.
Namun, kali pertama mereka akan dilatih
tentang ketakutan kepada Allah dan kecintaan
kepada Rasul. Kalau sudah lulus, baru akan
diajari bagaimana memuaskan suami di
ranjang. “Maraknya pelacuran terjadi bukan
hanya karena masalah ekonomi. Penyebab
utama adalah suami mencari kepuasan seks di
luar rumah,” jelasnya.
Oleh sebab itu, dia mengklaim KTS menjadi
solusi persoalan sosial seperti prostitusi dan
perceraian. Kebahagiaan di atas ranjang bisa
menjadi paling utama. Buktinya, dia yakin,
kalau saat menikah sang istri memberikan
batasan tidak boleh menyentuh, tentu
pernikahan akan batal.
Tidak hanya itu, dia tidak percaya jika
menikah bukanlah urusan menghalalkan seks.
Sebab, kalau menikah hanya untuk melayani
dan memasak, itu bisa dilakukan ibu atau
pembantu. Begitu juga urusan melancarkan
bisnis, itu bisa dilakukan dengan mencari
partner kerja yang tepat.
Lantaran keyakinan menikah hanya untuk
urusan ranjang itulah yang membuat pengikut
KTS harus tunduk kepada suami. Selama tidak
melayani syariat Islam, pelayanan seks yang
diinginkan suami, apa pun permintaannya,
harus dikabulkan. “Di akhirat banyak wanita
yang masuk neraka karena gagal menjadi istri
taat suami,” ungkapnya.
Menjadi taat kepada suami bukan tidak ada
untungnya. Dia mengatakan bakal ada
imbalan bagi para istri tersebut. Di antaranya,
bakal dimudahkan rezekinya oleh Allah. Dia
lantas mencontohkan, suami beristri lebih dari
satu dan istri-istri yang taat terhadap keinginan
suaminya dikaruniai rezeki yang melimpah.
Mereka digandrungi kawan dan lawan karena
kaya. Tuhan ikut membangun bisnis mereka,”
katanya.
Bagaimana respons para suami? Indratmoko,
salah seorang pengurus Global Ikhwan dari
Ciledug, Banten, mengungkapkan bahwa
kesetiaan istri kepada suami sangat berperan
dalam kehidupan berumah tangga. Dia yakin,
jika istri sangat taat kepada suami, keluarga
akan utuh. “Bagaimana pemimpin jika yang
dipimpin patuh semua? Pasti pemimpin itu
akan lebih baik dalam memimpin,” katanya.
Laki-laki beristri dua dengan empat anak itu
menambahkan, ketaatan terhadap suami
membuat suami tenang dan nyaman. Meski
demikian, bukan berarti tidak ada perceraian.
Di Global Ikhwan, kata Indra, perceraian tidak
bisa benar-benar hilang. “Perceraian tetap ada,
tapi ya tidak banyak lah,” kata lelaki berewok
itu.
Global Ikhwan merupakan gerakan keislaman
yang berasal dari Malaysia. Awalnya mereka
bernama Darul Arqam. Namun, karena
mendapat penolakan dan tekanan dari
pemerintah Malaysia, mereka berganti nama.
Kelompok tersebut masuk Indonesia pada 1994
dengan membentuk komunitas Islam di
berbagai daerah.
Di Indonesia, anggotanya sekarang sekitar 500
orang yang tersebar dari Pulau Sumatera
hingga Papua. Dalam komunitas tersebut,
mereka membangun fasilitas kesehatan,
pendidikan, pengajian, dan aktivitas-aktivitas
lainnya. Saat ini, kantor pusat mereka berada
di Haramain Makkah. “Kalau istri taat suami,
rumah tangga akan tenang,” kata Indra.

Pos ini dipublikasikan di IslamicQuraishCenter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s