Islam: adam disesatkan allah swt. Apakah allah swt itu iblis?

Kisah ini hanya bisa diketahui melalui wahyu, karena
ia berbicara tentang pertemuan yang tidak disaksikan
oleh manusia. Pertemuan Adam dengan Musa.
Pertemuan ini terwujud atas dasar permintaan dari
Musa. Kita tidak tahu bagaimana hal ini terwujud,
akan tetapi kita yakin bahwa ia terjadi karena berita
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pastilah benar.
Pertemuan seperti ini terjadi pada Rasulullah
Shallallahu Alahi wa Sallam manakala beliau bertemu
dengan para nabi dan rasul di malam isra’ dan beliau
shalat berjamaah dengan mereka sebagai imam di
masjid Al-Aqsa. Pada saat mi’raj ke langit beliau
berbincang dengan sebagian dari mereka.
Tujuan Musa dengan pertemuan itu adalah untuk
berbincang-bincang langsung dengan Adam dan
menyalahkannya karena Adam telah mengeluarkan
dirinya dan anak cucunya dari surga lantaran dosa
yang dilakukannya. Akan tetapi pada saaat itu Adam
mengemukakan alasan yang membuat Musa terdiam.
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengakui
bahwa Adam telah mengalahkan argumen Musa
Alahis Salam.
Teks Hadis
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih
keduanya dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah
Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Adam dan
Musa berdebat di sisi Tuhan keduanya. Maka Adam
mengalahkan argumen Musa. Musa berkata, ‘Kamu
adalah Adam yang diciptakan oleh Allah dengan
Tangan-Nya. Dia meniupkan ruh-Nya kepadamu. Dia
memerintahkan malaikat sujud kepadamu, dan Dia
mengizinkanmu tinggal di surga-Nya. Kemudian gara-
gara kesalahanmu, kamu menjadikan manusia
diturunkan ke bumi.’
Adam menjawab, ‘Kamu adalah Musa yang dipilih
oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya. Dia
memberimu lauh(kepingan kayu atau batu; pent)
yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu. Dia
telah mendekatkanmu kepada-Nya sewaktu kamu
bermunajat kepada-Nya. Berapa lama kamu
mendapatkan Allah telah menulis Taurat sebelum aku
diciptakan?’ Musa menjawab, ’40 tahun.’
Adam bertanya, ‘Apakah di sana tertulis, ‘Dan
durhakalah Adam kepada Allah dan sesatlah dia.
(Thaha: 121)?’ Musa menjawab, ‘Ya.’ Adam berkata,
‘Apakah kamu menyalahkanku hanya karena aku
melakukan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah
atasku 40 tahun sebelum Dia menciptakanku?'”
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda,
“Adam mengungguli argumen Musa.”
Riwayat di atas adalah riwayat Muslim.
Dalam riwayat Bukhari, “Adam dan Musa saling
beradu argumen. Musa berkata kepada Adam, ‘Kamu
Adam yang dikeluarkan dari surga karena
kesalahanmu.’ Adam menjawab, ‘Kamu Musa yang
telah dipilih oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya,
kemudian kamu menyalahkanku hanya karena aku
melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan atasku
sebelum aku diciptakan.”‘ Rasulullah Shallallahu Alahi
wa Sallam bersabda, “Maka Adam mengalahkan dalil
Musa.” Ini diucapkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa
Sallam sebanyak dua kali.
Dalam riwayat Bukhari juga, “Adam dan Musa saling
berdebat. Musa berkata, ‘Ya Adam, kamu sebagai
bapak kami telah mengecewakan kami. Kamu
membuat kami dikeluarkan dari surga.’ Adam
menjawab, ‘Ya Musa, Allah telah mengangkatmu
dengan Kalam-Nya dan Dia menuliskan untukmu
dengan Tangan-Nya, apakah kamu menyalahkanku
hanya karena perkara yang aku lakukan yang telah
ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun
sebelum Dia menciptanku?’ Rasulullah Shallallahu
Alahi wa Sallam bersabda, “Maka Adam mengungguli
Musa.” Tiga kali.
Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah
dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab Wafat Musa, 6/440,
no. 3407; dalam Kitab Tafsir, bab ‘Dan Aku memilihmu
untuk diri-Ku’ (Thaha:41), 8/434, no. 4736; dalam
Kitabul Qadar, bab dialog Adam dengan Musa, 11/505,
no. 6614; di Kitabut Tauhid, bab keterangan tentang
firman Allah, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa
dengan langsung.” (An-Nisaa: 164).
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul
Qadar bab debat antara Adam dan Musa, 4/2042, no.
2652.
Penjelasan Hadis
Kehidupan dunia adalah kelelahan dan kepayahan.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
berada dalam susah payah.” (Al-Balad: 4). Kelelahan
ini telihat dalam segala urusan. Siapa yang dimakan
oleh seseorang tidak diperoleh kecuali dengan
kelelahan. Seteguk minum juga demikian. Bahkan
pakaian dan tempat tinggal. Lebih dari semua itu,
penyakit-penyakit yang menimpa manusia, musuh-
musuh dan kawan-kawannya mendatangkan problem
baginya. Gangguan pun bisa datang dari anak-anak
darn kerabatnya.
Musa telah merasakan apa yang dirasakannya dari
Fir’aun dan bala tentaranya. Dia kabur dari Mesir ke
Madyan setelah membunuh laki-laki Qibti. Di Madyan,
Musa menggembala kambing selama sepuluh tahun
atau delapan tahun. Dan setelah Allah
mengangkatnya menjadi Rasul, Musa menghadapi
Fir’aun. Musa menghadapi kebengalan dan kenakalan
Bani Israel. Mungkin pada suatu waktu terbetik di
pikiran Musa bahwa penyebab kelelahan ini adalah
Adam, yang telah mengeluarkan dirinya dan anak
cucunya dari surga. Pada masa itu Allah telah
meminta Adam agar tinggal di surga setelah
menciptakannya. Allah mengizinkan buah-buahnya
dan sungai-sungainya kecuali satu pohon. Allah
menjamin kepada Adam tidak akan lapar dan
telanjang, dia juga tidak akan haus dan tidak terkena
sengatan matahari.
Manakala Adam durhaka kepada Tuhannya dengan
memakan pohon terlarang, maka Allah
menurunkannya dari rumah kekekalan ke rumah
kelelahan, dan manusia tidak mungkin hidup kecuali
dengan perjuangan yang berat.
Oleh karena itu, ketika Musa bertemu dengan
bapaknya, Adam dia mencelanya atas perbuatannya
yang membuat dirinya dan anak cucunya keluar dari
surga. Dalam perbincangan tersebut Musa
mengingatkan Adam akan kemuliaan yang diberikan
oleh Allah kepadanya, di mana Allah menciptakannya
dengan Tangan-Nya, sementara makhluk yang lain
diciptkan dengan kata “Kun.” Allah meniupkan ruh-Nya
padanya, menyuruh para malaikat bersujud
kepadanya, mengizinkannya tinggal di surga; dan
barang siapa diberi kemuliaan itu oleh Allah, maka
tidak sepantasnya ia tidak mendurhakai-Nya sehingga
tidak menurunkan dirinya dan anak cucunya dari
surga.
Adam merespon celaan Musa dengan celaan juga.
Adam membantah ucapan Musa. Dia mengingkari
Musa, bagaimana sikap menyalahkan ini bisa keluar
dari orang seperti Musa, Adam menyebutkan
keutamaan Musa yang diberikan Allah kepadanya.
Adam berkata kepada Musa, “Kamu Musa yang telah
diangkat oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya.
Dia memberi lauh yang berisi penjelasan tentang
segala sesuatu. Dia mendekatkanmu kepada-Nya
ketika kamu bermunajat. Berapa lama kamu
mendapati Allah menulis Taurat sebelum aku
diciptakan?” Musa menjawab, “Empat puluh tahun.”
Adam bertanya, “Apakah kamu mendapati, ‘Dan
Adam durhaka kepada Tuhannya, maka dia
sesat.’ (Thaha: 121). “Musa menjawab, ‘Ya.’
Adam berkata, “Apakah kamu menyalahkanku karena
satu perbautan yang aku lakukan yang telah
ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun
sebelum aku diciptakan?”
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah
menyatakan bahwa Adam mengungguli ucapan Musa.
Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana bisa itu?”
Bagaimana Adam unggul dalam argumennya?”
Jawabannya adalah bahwa Musa menyalahkan Adam
karena Adam telah mengeluarkan dirinya dan anak
cucunya dari surga. Maka Adam menjawabnya, “Saya
tidak mengeluarkan kalian dari surga, akan tetapi
Allahlah yang menjadikan keluarnya diriku karena
aku memakan pohon.” Maka pengeluarkan Adam
bukan sesuatu yang lazim jika ia tidak diinginkah oleh
Allah Tabaraka Wa Taala, karena mungkin saja Allah
mengampuninya tanpa mengeluarkannya dari surga
dan mungkin juga Allah menghukum Adam dengan
hukuman lain, bukan dengan mengeluarkannya dari
surga, akan tetapi hikmah-Nya menuntut
mengeluarkan Adam dari surga karena kebaikan yang
banyak dan besar yagn diketahui oleh-Nya. Oleh
karena itu, Adam mencela Musa atas celaannya
kepadanya karena satu perkara yang telah
dikehendaki dan ditakdirkan oleh Allah dan hal itu itu
sendiri bukan sesuatu yang lazim dari perbautan
Adam.
Hadis ini membantah para pendusta takdir, karena
hadis ini menetapkan takdir terdahulu dan dalil-dalil
yang menetapkan takdir adalah dalil-dalil yang
ketetapannya pasti dan dalalahnya juga pasti, maka
tidak ada peluang untuk mendustakan dan
mengingkari takdir. Barang siapa mendustakannya
maka dia tidak mengerti permasalahan yang
sebenarnya.
Hadis ini dicatut oleh kelompok jabbaraiyah di mana –
kata mereka- hamba adalah orang yang terpaksa
dalam perbautan-nya. Padahal, hadis ini tidak
menunjukkan itu. Adam tidak membantah Musa
dengan cara ini. Dan masalahnya adalah seperti yang
telah aku jelaskan dan aku tetapkan

Pos ini dipublikasikan di IslamicQuraishCenter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s