1. Siapakah qurra, itu?

Wahyu itu Kalimat surga. Dan Quran itu keseluruhan
Kalimat-Nya dalam sebuah Kitabullah Surga. Kitab ini
tidak ditakdirkan untuk ditempatkan hanya disurga,
tetapi juga akan dibagikan kedunia secara utuh dan
sempurna. Maka tatkala ia diturunkan dari Allah
hingga kepada tangan dan hati manusia, Allah dengan
kuasa sepenuhnya menjaga keseluruhan kesucian,
kelengkapan, dan kesempurnaan isi, pesan dan
semua dimensi Quran, sehingga sama identik sampai
selama-lamanya!
Tetapi apa faktanya? Turunnya “wahyu Quran”
kedunia ternyata samasekali bukan dilakukan dengan
kuasa mukjizat Allah yang dapat disaksikan oleh
manusia. Tak ada peran dan tanda-adikodrati apapun
yang Allah perlihatkan sehubungan dengan Kalimat-
Nya yang ditampilkan secara berdikit-dikit kedunia
selama 23 tahun! Yang tampak ada hanyalah sejenis
tanda-insani yang pernah diklaim Muhammad,
sepertinya “tanda-tanda epilepsy” (badan kejang-
kejang, kening ber-keringat, mulut berbuih, hidung
mendengus, kuping gemerincing suara lonceng dll).
Dan dalam ribuan buku-buku dan artikel Islamik,
debat dan peyakinan Islam tentang mukjizat
keterjagaan Quran yang Murni sempurna (Qs.15:9),
kita hanya disodori tentang betapa hebatnya otak dan
ingatan para QURRA (penghafal ayat) dalam
memastikan kesempurnaan teks-teks Quran yang
terhimpun! (Awas, bukan mukjizat Roh). Sedemikian
hebat kemampuan penghafalan seluruh isi Quran
sehingga qurra dipercaya tidak mungkin membuat
kesalahan terkecilpun ketika ayat-ayat tersebut
dikumpulkan dalam mushaf Utsman (yang kini
disahkan sebagai Quran Surga yang utuh)! Dengan
perkataan lain, para ahli Islam merasa telah
menemukan legitimasi kesempurnaan kitab Quran
dari para Qurra (!) sebab sampai Muhammad wafat
memang ia tidak pernah melegitimasikan kitab/
mushaf manapun.
Otak qurra telah dijadikan patokan tertinggi untuk
menyusun sejarah yang bisa dijamin kebenaran
mutlaknya. Tetapi sempurnakah “otak mesin” para
qurra itu? Apakah Muhammad ikut menyaksikan dan
melegalisasikan isi dan susunannya? Atau apakah itu
dapat disetarakan dengan “hafalan” dari Roh Allah
sendiri (atau Jibril), yang langsung dan tanpa cacat?
Alau kurang dari itu, pastilah ia bisa cacat, bukan?
Mari kita bahas dengan jeli…
Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa karena buta-
hurufnya Muhammad, maka tampaknya ia hanya
mempunyai pikiran yang terbatas tentang bagaimana
sebaiknya ia menyimpan ayat-ayat yang sudah
“diturunkan” kepadanya. Tentu saja orang yang asing
dengan aksara akan otomatis menyimpannya hanya
dalam otaknya. Apa yang diturunkan oral toh bisa
dihafalkan secara oral, dan bisa diteruskan secara oral
kepada penerusnya, bahkan berseni diteruskan
dengan cara pengajian unit wahyu per unit wahyu
dalam irama yang syahdu. Muhammad tampaknya
tidak sampai berpikiran bahwa ayat-ayat itu harus
dikumpulkan sejak awal dan disusun menurut tertib
urut kronologi, lalu dicatat secara tertulis sehingga
tidak ada yang tercecer dan terlupakan lewat waktu
yang berjalan lama, demi untuk diteruskan secara
otentik kegenerasi lepas generasi!
Mungkin juga kealpaan Muhammad untuk
membukukan “mushaf Muhammad” ini ada kaitannya
dengan apa yang didengarnya secara naïf bahwa Isa
Al Masih juga tidak pernah menuliskan Injilnya sendiri,
kecuali kerjanya berjalan kaki bersama murid-
muridnya dari tempat ketempat, “berkotbah” dan
memberi peringatan hari kehari, dan melakukan
mukjizat disana sini seizing Allah. Dan hanya sampai
disitulah tugasnya Isa, sedangkan apa terusan/
warisan pengajarannya, itu hanyalah urusan Allah
semata…
Muslim mungkin akan menuduh ini analisis yang
mengada-ngada? Samasekali tidak! Sebab
Muhammad tidak saja “mengalpakan” pewarisan
wahyu untuk pembukuannya, melainkan lebih-lebih
lagi “konyol mengalpakan” pewarisan suksesi
kekhalifahan dirinya kepada penerusnya! Pada saat-
saat terakhir wafatnya, beliau justru samasekali
“masa-bodo”, kosong otak, tidak mewariskan dua
pusaka yang paling berharga tersebut, dalam
menjaga kemurnian Islam!
Sekalipun Nabi ada menyuruh mencatatkan sejumlah
ayat-ayat (misalnya oleh jurutulis Zayd), namun tidak
ada kepastian bahwa semua ayat Quran itu tercatat.
Tidak diketahui kapan Muhammad suruh mulai
mencatatnya (Zayd masih anak kecil untuk ayat-ayat
Makkiyyah), dan mustahil semuanya tercatat oleh
satu orang, apalagi menurut tertib urut kronologi.
Heboh kasus hilangnya ayat Khuszaimah
membuktikan semuanya hanyalah acak-acakan saja
(lihat bawah). Kekacauan ini terjadi mengingat tidak
seorangpun yang selalu berada bersama dengan Nabi
setiap kali wahyu diturunkan (dirumah, ditempat tidur,
dimesjid, diwaktu siang atau malam, dimusim dingin
atau panas, ditempat umum dan khusus, dalam
perang, ketika membagi-bagi jarahan, dalam
perjalanan, bahkan perjalanan kesurga dll). Yang pasti
adalah bahwa tiap pencatat ayat hanya mencatat
bagian yang diketahuinya secara kebetulan –
ditempat dan waktu — dimana Nabi sedang terturun
unit wahyu, lalu buru-buru memakai apa yang
tersedia disekelilingnya untuk mencatat-kannya,
seperti lempengan batu, kayu, tulang, kulit, pelepah
kurma, apa saja yang kebetulan ada, atau sebagian
dihafal jikalau memungkinkan.
Jadi inilah yang sering terlupakan oleh Muslim, bahwa
tiap qari (penghafal ayat, single) sesungguhnya hanya
memiliki kumpulan bunga-rampai ayat-ayat
pribadinya sendiri-sendiri, yang jelas saling berbeda
porsinya maupun bunyi isinya, sesuai dengan apa
yang berhasil dicatat atau yang terhafal oleh masing-
masing qari.
Jadi, sekalipun qurra adalah penghafal ayat yang
tangguh, namun tidaklah benar manusia qurra –
bukan dewa—itu memiliki seluruh Quran, dan yang
tak mungkin keliru, lalai, atau lupa akan pernik-pernik
seisi utuh Quran yang dihafalinya.
Pertama, sudah sempurnakah porsi Quran hasil
penyusunan qurra?
Betulkah Quran asli surgawi di Lauh Mahfudz itu sama
persis mengandung jumlah 114 surat, 6236 ayat,
74.437 kalimat, dan 325.345 huruf, seperti yang
dicatatkan dalam Quran kita sekarang ini, mengikuti
mushaf yang dihasilkan qurra? Maulvi Muhammad Ali
dan para ulama lainnya menegaskan, “Quran adalah
sebuah (himpunan) manuskrip yang tidak mengenal
variasi terkecil sekalipun”. Memang definisi Quran
tidak mungkin bisa ditempatkan kurang dari itu. Tetapi
realitasnya lagi-lagi mengungkapkan bahwa sejarah
rekonstruksi Quran dimana-mana membantahi definisi
kosong tersebut. Dalam Al-Itqan saja terlihat banyak
riwayat-riwayat perselisihan dan bantahan yang
terdapat dalam tubuh sahabat Nabi dan qurra sendiri!
Secuil “wikileaks” cukup kita lemparkan disini: semisal
Codex naskah Ibn Mas’ud, yang tidak mengakui tiga
surat mushaf Utsmani, yaitu surat-1, 113, 114 (Al-Itqan,
bab kompilasi Quran). Sebaliknya Codex Ubay ibn Ka’b
(sekretaris Nabi) menyodorkan dua surat tambahan
yaitu surat 115 (al-Hafad) dan surat 116 (al-Khala),
yang tidak dimiliki oleh mushaf Utsman. Sementara
Codex Ali sebagian-nya diketahui telah disusun
menurut urutan kronologi dimulai dari Surat 96, 74, 68,
73, 111, 81, dst. Lebih jauh Umar sampai bersumpah
bahwa ayat rajam adalah bagian dari, dan ini
dibenarkan pula oleh Ubay bin Ka’b, namun ayat ini
dikosongkan dari Quran sekarang ini. Juga
periwayatan yang dinisbahkan kepada Ubay dan
Aisyah: “ Surat al_Ahzab yang saat ini memiliki 73
ayat, sebelumnya memiliki sekitar 286 ayat serupa
dengan suratal-Baqarah” (Al-Itqan 1/p.64-65)….dll.
Menghadapi krisis kanan kiri ini sejarah mencatat
bahwa Utsman memerintahkan solusi short-cut,
yaitu memerintahkan membakar habis semua
naskah-naskah asli Quran kecuali yang di edit-ulang
oleh teamnya sendiri (para qurra). Naskah asli yang
diharuskan dibakar itu tidak pernah dipersalahkannya,
namun mushaf hasil re-editing team qurra Utsman
itulah yang diproklamasikannya sewenang-wenang
sebagai Quran yang sah! Jadi sempurnakah Quran
dalam kitab yang diproduksi dan yang diabsahkan
sendiri oleh Utsman dan teamnya?
Kedua, cukupkah jumlah qurra yang masih hidup
yang menjadi saksi pembukuan seluruh ayat
Quran?
Fakta gugurnya ratusan qurra dalam perang
Yamamah (tradisi ada yang meriwayatkan total
kematian 450 atau 500 atau 700 qurra pejuang,
(entah versi riwayat mana yang benar), ditambah
dengan ratusan lainnya sebelumnya dalam perang
Muana, jelas menciptakan kemungkinan yang paling
wajar bahwa ayat-ayat kumpulan mereka juga turut
tergugur dan musnah selamanya bersamaan dengan
kematian para qurra ini. Ini bukan kekhawatiran
sepele, melainkan justru mencerminkan suasana kritis
yang mencekam Umar dan Abu Bakar, yang mana
mengindikasikan “kemungkinan banyaknya bagian
Quran yang turut termusnah dalam
peperangan” (Bukhari 61/ 509; Fadhail al-Quran3).
Akhirnya pembukuan Quranpun buru-buru
diberlakukan demi mengamankan isinya agar tidak
menjadi makin melisut dan terhilang. Namun Ibn Abi
Dawud men-sinis apa yang telah di-otak-atik dan
dikumpulkan oleh 3 khalifah selama itu,
“Banyak (porsi) dari Quran yang diturunkan (hanya)
diketahui oleh mereka yang gugur pada Hari
Yamamah…. tetapi yang tidak diketahui (oleh mereka)
yang masih selamat; juga tidak ditulis, tidak
dikumpulkan oleh Abu Bakar, Umar atau Utsman
(pada waktu itu) akan Quran-nya, dan tidak
ditemukan oleh satu orang lainnya.” (Ibn Abi Dawud,
Kitab al-Masahif, p.23).
Menjadi pertanyaan terbuka: cukupkah nara-sumber
qurra yang masih ada untuk menyumbang seluruh isi
Quran secara utuh dan benar? Bagaimana kalau ada
satu qari saja seperti Khuzaimah (yang menyimpan
satu-satunya ayat yang tidak dipunyai oleh qurra lain,
lihat dibawah) yang telah keburu mati sebelumnya,
baik dalam peperangan Mauna, Yamamah atau sebab
lainnya?
Ketiga, siapakah itu qurra? Seberapa hebatnya
integritas moral mereka?
Pertama-tama, bertanyalah apakah qurra itu
speciesnya dewa sehingga begitu didewakan
otaknya? Bagaimana profile para qurra dizamannya
Muhammad hingga mushaf pertama dimunculkan oleh
peran mereka? Tidak banyak informasi tentang sosok
qurra yang dikatakan jumlahnya mencapai ribuan
orang (?). Benar mereka adalah penghafal ayat-ayat
Quran, tetapi tidak mesti Quran (seluruhnya),
mengingat bahwa tidak ada seorangpun yang
memiliki keseluruhan Quran sebelum dikumpulkan
Abu Bakar lewat Zayd. Bagaimana dengan IQ-otak
dan reputasi mereka? Bisa betul mereka jago hafal,
tetapi pintarkah, atau justru bodoh kecuali hanya
pintar membeo?
Banyak komentator menduga bahwa mereka
umumnya adalah orang-orang buta huruf saja yang
suka menikmati dongeng ala “1001 malam”. Ini sesuai
dengan kenyataan mayoritas luas Arab dizamannya
yang buta aksara, kecuali sejumlah kecil elite yang
disebutkan nama mereka. Qurra menjadi pengikut
Muhammad yang taat, dan getol menjadi pejuang
dimedan perang paling depan. Kenapa? Karena
Muhammadlah yang pintar mempengaruhi dan
mengikat mereka dengan pelbagai janji, ajaran dan
ajakan. Mulai dari mendongeng kisah nabi-nabi
Alkitab dengan adaptasi-pembelotan ala 1001 malam
yang misterius, atau menakut-nakuti mereka dengan
siksa kubur dan neraka, hingga memberikan jaminan
nafkah yang menggiurkan bagi pejuang yang mau
berperang! Yaitu dalam bentuk barang jarahan, budak,
dan perempuan, disamping 72 bidadari surga yang
selalu perawan sehabis sex!
Namun yang paling ketekoran bobotnya qurra adalah
kenyataan bahwa semua mereka betul hanya
membeo saja, dan tidak satupun diantaranya yang
berusaha mencocokkan sendiri apa yang mereka
hafal dengan kenyataan yang bisa mereka cari.
Mereka telah menghafal dan membaca berpuluh ayat-
ayat dimana Muhammad “membenarkan” dan
memerintahkan mereka untuk harus “mengimani”
TAURAT DAN INJIL (Qs.2:41, 89, 91, 101, 136; 3:3; 41:36;
5:43-48, 68; 6:92; 10:73, 94; 29:46; 32:23; 35:31; 43:4;
46: 39 dst) , namun adakah seorangpun dari mereka
yang berusaha untuk melacak (minta bantuan dari
Ahli Kitab dll misalnya) apakah gerangan isi atau
hukum dari Alkitab yang paling harus diimani,
misalnya? Atau manakah mukjizat (tanda) Isa yang
paling spektakuler menurut Isa sendiri? Atau apakah
setiap orang Nasrani dipastikan akan masuk keneraka
juga seperti yang dipastikan oleh Muhammad kepada
mereka? (Qs.19:71). Dengan secuil pertanyaan yang
paling mendasar inipun maka qurra akan
mendapatkan jawaban yang membelalakkan mata
mereka yang tidak pernah didengarnya dari mulut
dan dongengan Nabinya sendiri! Semua qurra
tampaknya tersihir dalam rentang fantasi dan insentif
yang Muhammad suguhkan sepihak kepadanya,
sedemikian sehingga kini Alkitab-lah yang dituduh
Muslim sebagai palsu, bukan dongeng 1001 malamnya
Muhammad. Palsu yang dibenarkan, dan yang harus
diimani? Alangkah rendahnya IQ dan integritas para
qurra …
Keempat, sudah benarkah kesaksian para qurra
dimata Allah?
Maka banyak Muslim juga tersihir sampai tidak sadar
bahwa keputusan untuk menyusun/ membukukan
Quran ini sesungguhnya menyalahi tiga sangkutan
perkara “manusia–nabi–Allah” yang sangat prinsip.
Yaitu prinsip batas kemampuan manusia, prinsip
ingkar sunnah Nabi, dan prinsip ingkar perintah Allah:
(a).Batas kemampuan. Zayd yang paling tahu akan
kemustahilan penyusunan kembali teks-teks Quran
lepasan yang begitu berserakan, SPONTAN menolak
penugasan tersebut dengan segala kejujuran, bahkan
sumpah:
“Demi Allah! … Seandainya aku diperintahkan untuk
memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah
lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al-Quran
yang engkau perintahkan itu”…
Ribuan teks teks Quran yang terserak dan tercecer,
acak atau terhilang kesetiap pencatat ayat yang
bermasalah (hidup atau mati), mustahil bisa dijamin
disusun kembali secara utuh dan sempurna seperti
aslinya dari surga.
Statement Zayd kepada Abu Bakar ini seharusnya
sudah menjelaskan bahwa kehadiran otak-otak
penghafal ayat belumlah apa-apa dibandingkan
dengan “mission-impossible” dalam menyusun ayat-
ayat Quran yang tercecer, kacau dan kehilangan
referensinya. Pengakuan Zayd yang men-demi-kan
nama Allah ini sungguh telah menampik orang-orang
yang mendewakan qurra, mengingat bahwa Zayd
sendiri justru adalah juga salah satu qurra yang paling
handal! Keberatannya semacam itu haruslah diterima
seberat seperti yang telah dikatakannya secara bebas
(sebelum ditekan Abu Bakar), tanpa korting dan
pereduksian apapun!
Zayd, qurra yang handal tahu keterbatasannya.
Kelak, Abd Allah ibn Umar sama menafikannya
sebagai kemustahilan, sehingga ia berkata apa
adanya:
“Sungguh seseorang diantara kamu akan berkata:
‘Saya telah mendapatkan al-Quran yang lengkap’, dan
tidak mengetahui taraf kelengkapannya.
Sesungguhnya banyak bagian al-Quran yang telah
hilang (dzahaba), dan karena itu seharusnya ia
berkata: ‘Saya telah mendapatkan (bagian Quran)
yang masih ada’.”
(Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.230. Juga As Suyuti,
Itqan, part 3, p.72).
Al-Suyuti juga mencatat kemustahilannya dari Ikrima:
“Jikalau jinn dan manusia sama sama berhimpun
menyusunnya (urutan Quran sebagaimana yang
diwahyukan), mereka tidak pernah dapat
melakukannya” (Al-Itqan, bab kompilasi).
(b). “Ingkar” Sunnah Nabi. Ketika Zayd terus didesak
oleh khalifah Abu Bakar dan Umar, ia masih
melakukan penyanggahan dengan kalimat yang
merujuk kepada keimanan:
”Mengapa kalian melakukan sesuatu (penyusunan
Quran) yang tidak diperbuat oleh Nabi?” (lihat
Muqaddimah Al Quran, terjmh. Depag).
Abu Bakar mendalilkan perlunya penyusunan Quran
ini sebagai proyek yang “sangat baik” untuk Islam
walau Muhammad tidak pernah menganjurkannya
sekalipun selama 23 tahun kenabiannya. Semua
Muslim sekarang agaknya juga akan memujikan hal
yang sama sekalipun itu tidak di sunnahkan Nabi.
Tetapi Muslim lupa bahwa jikalau hal itu sangat baik
dan berguna bagi Islam dan umat-Allah, tentulah itu
tak luput dari pengetahuan dan kehendak Allah untuk
memerintahkan Muhammad membukukan Kalimat-
Nya sejak dari awalpun! Jadi andaikata sekalipun tak
ada Zayd & Abu Bakar yang membukukannya,
apakah Allah tidak mampu menurunkan kuasa-
langitNya untuk menghadirkan Qurannya secara utuh
dengan cara yang samasekali berbeda dengan akal
manusia? Bukankah janji-janji Allah luar biasa
tegarnya terhadap KalimatNya sendiri? Termasuk
“tidak ada perubahan”, “tidak dapat dipergantikan”,
dan “tidak berkesudahan kehadirannya (kekal disisi
Allah)” dari setiap Kalimat-Nya? (Qs. 6:34; 10:64; 48:23;
43:4; 85:22). Allah sendirilah yang menjamin existensi
dan pemeliharaan kesempurnaan Quran-Nya hingga
selamanya, “Sesungguhnya Kami-lah yang
menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya” (Qs.15:9, dngan
footnote dari Depag: Ayat ini memberikan jaminan
tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-
lamanya).
Jadi dimana iman Abu Bakar kepada Allah SWT,
sehingga lebih mengandalkan pikirannya sendiri dan
para qura, ketimbang beriman kepada janji dan
jaminan Allahnya. Apalagi ia sudah diperingati oleh
Zayd sebelumnya untuk mengikuti “sunnah” Nabi
saja! Namun Abu Bakar dalam kepanikannya tetap
memaksakan “proyeknya” sendiri. Tidak heran
mushafnya walau akhirnya selesai disusun, namun
praktis dimubazirkan Allah: Mushaf ini tidak pernah
menjadi acuan Quran resmi (Official Quran),
melainkan hanya tersimpan sepi selama 15-20
tahunan selama 3 kekhalifahan tanpa manfaat
kepada masyarakat Islam yang justru makin
berkembang!
(c). “Ingkar” perintah Allah
Lebih dari apa yang tampak dari luar, adakah Muslim
juga melihat bahwa pembakaran yang Utsman
perintahkan dalam kepanikan itu bukan semata
sebuah tindak kepanikan, kebodohan, dan
kecongkakan yang tidak beriman, melainkan juga
sebuah kejahatan dan bunuh diri? Kenapa? Bukankah
Allah telah menyodorkan sebuah senjata pamungkas
untuk menyaring setiap surat palsu Quran, yaitu
dengan menantang semua manusia dan jin untuk
bersekongkol membuat “Surat Semisal Quran” untuk
dipertandingkan dengan surat asli Quran?
“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul
untuk membuat yang serupa
(semisal) Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan
dapat membuat yang serupa
dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang
lain” (Sura 17:88).
“ Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Quran
yang Kami wahyukan
kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu
surat (saja) yang semisal
Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain
allah, jika kamu orang
yang memang benar” (Sura 2:23, 10:37-38).
Nah, Allah lewat Muhammad telah memperlengkapi
setiap Muslim untuk membedah, mengidentifikasi, dan
memilah setiap “surat-palsu-Quran” dengan ayat
pamungkas seperti yang dikutib diatas. Ternyata ayat
kebanggaan semua Muslim itu tidak digunakan
samasekali oleh Utsman, yang lebih memilih untuk
memilah naskah Quran miliknya (re-edisi qurra)
dengan cara membakar semua naskah-naskah asli
Quran tandingan lainnya! Kenapa Utsman sampai
membangkang perintah Allah yang telah disiapkan
itu? Ya, karena Utsman tidak berani memilah dan
mempersalahkan “surat tantangan” manapun, karena
iapun tak tahu persis mana yang salah mana yang
benar. Bukankah semuanya itu telah sama dicatat
langsung dari mulut Nabi sendiri?
Dan sama setali-tiga-uang dengan Utsman, semua
Muslim sampai sekarangpun tak ada yang berani
men-juri-kan apakah surat ke 115 dan 116 dari Ubay
(surat al-Hafad dan al-Khala) adalah surat wahyu atau
bukan wahyu! Ayat-ayat “pamungkas -ilahi” (yang
sangat dibangga-banggakan Muslim sampai sekarang
ini) ternyata impoten sejak dari lahirnya. Ia tidak bisa
dipakai secara operatif untuk memilah ayat palsu
yang berkwalitas, termasuk Muhammad sendiri tak
mampu memilahnya! Ia hanya diperalat menjadi ayat
penggertak Muhammad saja selama hidupnya. Dan
seluruh Muslim telah tertipu mengelu-elukan ayat
pamungkas dengan pepes kosong ini!
Sesuatu tantangan yang diklaim datang dari Allah tapi
ternyata impoten, sia-sia, gagal dan mubazir tentulah
menjadi bahan tertawaan. Klaimnya kepergok palsu
belaka, karena firman Tuhan selalu perkasa, tak ada
yang kosong, mustahil sia-sia:
“Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia
tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi
ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan
akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan
kepadanya” (Yesaya 55:11).
(BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di IslamicQuraishCenter. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s